• moonrakerclub.com

    MISC

    MOONRAKER INDONESIA SPORT CLUB
  • moonrakerclub.com

    MOONRAKER THE LEGEND!!!

    Klub Motor Legendaris Indonesia Sejak 28 Oktober 1978!
  • moonrakerclub.com

    KAMI KLUB MOTOR PRESTASI BUKAN GENG MOTOR

    Klub Moonraker siap menciptakan prestasi dan suasana yang kondusif di Indonesia. Moonraker is not crime!
  • moonrakerclub.com

    Moonraker Is Not Crime!!!

    Junjung Perdamaian Hentikan Kriminalitas dan Anarkisme
  • moonrakerclub.com

    Wanieun!!!

    Kita bersama-sama menjaga keamanan dari tindakan rusuh yang dilakukan oleh kelompok bermotor
  • moonrakerclub.com

    One For All All For One

    Semangat Pemuda untuk berkreativitas dan membuat Indonesia lebih baik.

Saturday, 19 March 2016

Klarifikasi Ketua Umum Moonraker Tentang Suporter Bayaran


Moonraker-Pusamania Borneo FC


Masih ingat laga Piala Bhayangkara antara Pusamania Borneo FC dan Sriwijaya FC pada 18 Maret  2016 kemarin ?

Apa yang terjadi di dalam stadion Si Jalak Harupat bisa dibilang aneh, bukan karena pertandingannya tetapi pendukung Pusamania Borneo FC terekam sedang menyimbolkan kata sandi Wanieun yang menyimpulkan mereka berasal dari klub motor Moonraker.

Moonraker-Pusamania Borneo FCKalau kita lihat mention yang beredar di twitter tentang Moonraker menjadi supporter bayaran dalam hal ini saya sudah verifikasi ke Ketua Umum Moonraker Indonesia bahwa Klub Moonraker terang-terangan rela memberikan dukungan bagi klub Pusamania Borneo FC pada pertandingan yang akan digelar tanggal 22 dan 24 Maret 2016, terkecuali pertandingan melawan Persib.

"Kami sudah dipinta oleh pihak Borneo FC untuk memberikan dukungan. Kami
dibayar oleh mereka." ujar Mas Bondz, Ketua Umum Moonraker Indonesia.

"Kami memang diminta datang untuk meramaikan stadion, supaya tidak terkesan pertandingan ini sepi penonton. Tetapi ya itu, kami datang sebagai suporter Borneo FC."

Ketua-Umum-Moonraker-Indonesia-Mas-BondzSaat ditanya soal klub mana yang sebenarnya ia dukung, Mas Bondz mengungkapkan, ia tetap pendukung setia Persib. "Begini, kalau Borneo FC main melawan Persib, saya dukung Persib. Tetapi kalau Borneo FC lawan klub lain, saya dukung Borneo FC," tutur Mas Bondz, saat dihubungi melalui telepon.

Menjadi suporter dadakan ternyata enak juga. Sebab, selain menerima uang, mereka juga mendapat kaos termasuk parkir, tiket masuk stadion dan pengawalan dari pihak Kepolisian.

Meski mendapat uang dari bisnis suporter bayaran ini, Mas Bondz menuturkan sebenarnya uang yang mereka peroleh tersebut sebagian akan dimasukkan ke Kas karena klub ini butuh income untuk acara seperti Bakti Sosial dan intinya bukan untuk memperkaya diri sendiri, dalam hal ini ia menjelaskan panjang lebar.

Ya memang sangat unik penghasilan yang mereka terima ternyata dikumpulkan dan digunakan untuk sumbangan pada berbagai badan kemanusiaan.

Monday, 15 February 2016

Moonraker Syariah Akan Dibentuk di Daerah


moonraker-syariah


BANDUNG, (PRLM).- Berandalan motor pernah menjadi berita utama media massa. Nyaris semuanya membicarakan kiprah negatif berandal bermotor, mulai dari mengganggu kenyamanan pengguna jalan, sampai terlibat kriminal. Berandalan bermotor bahkan sempat dibubarkan aparat.

Semua pemberitaan buruk itu sempat membuat Ebeth (36) tak mau berbicara dengan media. Pentolan Moonraker Bandung bernama asli Dedy Jumena ini memilih menarik diri. Upaya untuk memperbaiki citra berandalan bermotor sempat dilakukan, seperti penanaman pohon ataupun aksi sosial. Tapi, semua itu tidak mengikis catatan buruk berandalan bermotor.

Menurut Ebeth, belakangan angin perubahan mulai datang. “Sekarang sudah mulai berubah. Gesekan antar kelompok juga tidak seperti dulu,” kata Ebeth, Senin (15/2/2016).

"XTC Hijrah, BRIGEZ Berdzikir, dan GBR Berwudhu tengah menggagas program Pemuda Hijrah Berbagi Hikmah"

Kondisi ini mendukung gerakan perubahan yang diusung oleh Moonraker Syariah. Kegiatan rohani kini mendapat tempat di kalangan anak motor. Gejala ini tidak hanya berlaku di Moonraker. Kelompok-kelompok lainnya juga mulai merambah ke kegiatan rohani, meski bentuknya belum melembaga seperti Moonraker Syariah. Sebut saja gerakan XTC Hijrah, BRIGEZ Berzikir, juga GBR Berwudhu.

Ebeth mengatakan, masing-masing perwakilan kelompok ini bahkan sedang merencanakan sebuah program yang dinamai Pemuda Hijrah Berbagi Hikmah. Perwakilan dari kelompok-kelompok ini akan keliling sekolah-sekolah untuk berbagi pengalaman melahirkan pribadi baru yang lebih baik. Belum terang kapan kegiatan ini akan digulirkan. Tapi, upaya mengarah ke sana sudah dimulai.

“Empat orang perwakilan organisasi ini kemarin diundang ke TVRI, kami juga sudah bertemu ustaz Arifin Ilham. Harapannya bisa menginspirasi anak muda lain yang juga ingin berubah,” kata salah seorang penggagas Moonraker Syariah ini.

Moonraker Syariah sendiri rencananya akan didirikan di daerah lain, seperti Garut, Cirebon, Subang, dan Purwakarta. Targetnya, setiap cabang Moonraker punya Moonraker Syariah.

Cara ini, kata Ebeth, jauh lebih efektif ketimbang upaya pemerintah dan penegak hukum membubarkan atau sekadar mengganti nama organisasi. Sebab bukan nama baru yang membawa perubahan. Perubahan pada masing-masing pribadilah yang akan membawa perbaikan. (Catur Ratna Wulandari)

Moonraker Syariah, Kisah Hijrah Anak Motor


moonraker-syariah


BANDUNG, (PRLM).- Dedy Jumena (36) tidak langsung meladeni permintaan wawancara PRLM dengan salah seorang pentolan Moonraker. “Ini sudah mau azan Zuhur, ngobrolnya setelah salat aja gimana?” kata pria yang akrab dipanggil Ebeth ini, Senin (15/2/2016).

Satu jam berselang, ia menepati janjinya. Di sebuah kedai bakso di Jalan Ternate, Kota Bandung, ia bercerita tentang hijrah dan terbentuknya Moonraker Syariah.

moonraker-syariahSetelah bersalaman, Ebeth memperkenalkan tiga kawannya yang sedang makan siang bersama. Mereka ini aktivis Moonraker Syariah. Meski berlabel syariah, jangan bayangkan penampilan mereka dengan gamis atau sarung, juga kopiah yang selalu terpasang di kepala. Gayanya masih khas anak muda. Seperti anak muda lainnya, mereka masih senang mengenakan jeans dan kaos oblong. “Tetap funky, tapi syar’i,” ujarnya.

Moonraker sempat dikenal sebagai salah geng motor terbesar di Jawa Barat, barangkali juga di Indonesia. Berbagai kasus kriminal yang melibatkan geng motor, membuat kelompok ini dilabeli berandal bermotor. “Anggapan negatif masyarakat tidak bisa dielakkan, walapun di dalamnya tidak sebegitunya juga. Buktinya, Moonraker ini bisa bertahan 30 tahun itu juga karena ada sisi positifnya juga,” katanya.

"Dulu semboyannya Speed Maniac, sekarang Speed to Taqwa"

Sejak berdiri pada 1978, kelompok ini asyik dengan kegiatan yang berkaitan dengan motor. Salah satunya, adu kecepatan di jalan. Sampai jumlah anggotanya membesar dan menyebar ke seantero Indonesia, kelompok ini tidak pernah menyentuh urusan rohani. Meninggalkan salat, mabuk, juga ugal-ugalan di jalan itu salah satu perilaku anggota yang dulu kerap dijumpai.  “Urusan rohani itu dulu dianggapnya urusan sendiri-sendirilah,” kata Wandi Rukmawan (45) yang bergabung dengan Moonraker di tahun awal pendiriannya.

Sejak enam bulan lalu, urusan rohani ini justru jadi bahan perbincangan rutin di kalangan Moonraker. Ebeth bersama beberapa kawannya mempelopori berdirinya Moonraker Syariah. Seminggu sekali mereka mengadakan pengajian di Masjid Ar-Rahman, Terminal Dago. Selepas Isya mereka berkumpul di sana mendengarkan siraman rohani dari ustaz.

Pengajian pertama hanya dihadiri 16 orang. Kini pesertanya bias mencapai 60 orang. “Dibandingkan anggota Moonraker di Bandung saja, jumlah itu sangat kecil. Tapi ini kan niat baik untuk menuju takwa. Dulu semboyannya Speed Maniac, sekarang Speed to Taqwa. Kalau dulu balapnya di jalan, sekarang berlomba-lomba menuju takwa,” ujar Ebeth. (Catur Ratna Wulandari)

Penyuluh Coblong bersama “Moonraker Syariah” Selenggarakan Tabligh Akbar Speed To Taqwa

Moonraker-Syariah


Coblong, Kota Bandung- Penyuluh Kecamatan Coblong Kota Bandung bekerjasama dengan “Moonraker Syariah” menyelengarakan kegiatan Tabligh Akbar dengan tema “Speed To Taqwa” bertempat di Masjid Ar Rahman Terminal Dago Kota Bandung, Sabtu (05/2). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Drs. H. Edwin (salah seorang Anggota DPRD Kota Bandung),  Camat Kec. Coblong, Kepala KUA Kec. Coblong dan Ketua BNN Kota Bandung.

Tampil sebagai penceramah dalam tabligh akbar ini adalah mubaligh muda yang konsen terhadap persoalan-persoalan remaja saai ini yakni  Ust. Dadang Komaridun, S.Pd, Ust. Iwa Muttaqin dan Ust. Evi Effendi. Dalam ceramahnya mereka menyampaikan tentang pentingnya memanfatkan masa muda untuk berkarya dan beribadah kepada Allah Ta’ala agar dapat hidup mulia serta Islam sebagai agama Rahmaran lil Alamin.

 Dadang Komarudin, S.Pd Ketua Pelaksana kegiatan ini dalam keterangnnya mengatakan bahwa tujuan pelaksanaan kegiatan Tabligh Akbar ini adalah untuk mengkoordinir dan memfasilitasi remaja-remaja yang selama ini lebih akrab dijalanan dan identik dengan kebut-kebutan bahkan kekerasan agar dapat diajak kembali belajar mengaji dan memahami Islam sebagai rahmatan lil alamin. Selain itu sebagai Penyuluh Agama Islam, Dadang Komarudin, S.Pd ingin menampilkan kepada masyarakat bahwa institusi Kementerian Agama yang dengan jargonnya “bersih dan melayani” senatiasa istiqomah melaksanakan program-program pembangunan keagamaan. .

 Kegiatan tabligh akbar bersama “Moonraker Syariah” dengan tema “Speed To Taqwa” di Masjid Ar Rahman ini telah dilaksanakan sebanyak lima kali setiap Jum’at malam yang dimulai pada pukul 19.00 s.d 21.00 WIB.

Mengubah Citra Buruk Moonraker

Moonraker-Syariah
Suasana tabligh akbar Moonraker Syariah yang dilakukan di Masjid Arrahman Darul Ilmi Dago, Jumat (5/2/2016) malam (Foto By: Pikiran Rakyat Bandung)


BANDUNG, (PRLM).- Citra negatif sudah kadung melekat pada Moonraker. Disebut sebagai berandalan bermotor, kelompok ini kerap dianggap lebih dekat dengan maksiat. Moonraker Syariah mencoba melawannya. Bukan untuk pencitraan, tapi upaya perbaikan diri selagi masih punya kesempatan.

Dedy Jumena (36) atau yang akrab dipanggil Ebeth masih merinding setiap mengingat perjalanannya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah. Hari-hari dihabiskan untuk bertafakur. “Saya yang ibaratnya setengah hidup saya ini isinya dosa, bisa sampai ke sini (Tanah Suci). Di sana jadi ingat perjuangan Nabi Muhammad, juga Nabi Ibrahim, malu saya,” ujar pria berkacamata ini.

Ibadah umrah beberapa tahun silam menjadi titik baliknya. Selagi masih punya kesempatan, ia ingin memperbaiki diri. Dari hal-hal mudah, misalnya tidak meninggalkan salat. Seasyik apapun kegiatannya tidak lantas membuatnya meninggalkan salat. Ia mulai meluangkan lebih banyak waktu untuk belajar agama. Semangat memperbaiki diri ini kemudian ditularkan pada teman-teman yang lain. Dari sanalah ide membentuk Moonraker Syariah bermula.

Bersama teman-teman seide itu, Ebeth mencari-cari tempat untuk berkumpul. Lantaran tidak bermukim di satu wilayah, cukup sulit mencari masjid yang mau menampung kegiatan mereka. “Sampai akhirnya kami lagi makan nasi goreng di dekat Terminal Dago. Ternyata di sekat situ ada masjid yang belum jadi, kebetulan kami kenal marebotnya. Setelah minta izin, kami diperbolehkan pengajian di situ setiap Jumat,” tutur Ebeth.

Sekarang kalau azan salat dulu. Hobi tetap jalan, tapi salat enggak ditinggal
Sejak enam bulan lalu secara rutin mereka menggelar pengajian selepas salat Isya. Ustaz diundang untuk berceramah. Tidak sembarang ustaz yang diundang. Hanya ustaz yang bisa ‘berbicara’ dengan anak muda yang akan diundang. Cara penyampaian ini penting menurut Ebeth. Berbicara dengan anak-anak muda, khususnya anggota Moonraker, perlu kepiawaian khusus. Salah cara dikhawatirkan justru membuat alergi. “Kalau isinya menghakimi, malah tidak bisa diterima. Saya juga nggak mau digituin,” kata Ebeth.

Ebeth juga tidak mau pengajian ini terjebak pada aliran-aliran tertentu. Ia ingin pengajian ini bisa dinikmati oleh siapapun. Anak muda, orang tua, anggota Moonraker, anggota kelompok lain, juga masyarakat luas.

“Lumayan efeknya, yang semula datang pakai celana jins bolong-bolong sekarang pakai sarung. Ada yang dulu punya dua tindik, sekarang dilepas satu,” kata Ebeth. Perubahan kecil ini justru menggembirakan. Pertanda masing-masing orang tengah berproses. Ia justru tidak ingin perubahan itu terjadi drastis.

Dua pekan lalu, mereka mengadakan tabligh akbar. Dari jumlah yang hadir, acara ini tergolong sukses. Jika pengajian rutin maksimal hanya 60 orang, hajatan kemarin dihadiri ratusan orang. Setelah kegiatan itu, beberapa orang menyatakan ketertarikannya mengikuti pengajian. “Ada yang ingin datang tapi malu. Mereka berpikir kalau datang pengajian itu ngajinya sudah jago, ilmunya sudah tinggi. Padahal mah nggak. Siapapun boleh datang,” katanya.

Ebeth menyadari, upaya membentuk Moonraker Syariah ini tidak bisa lepas dari prasangka pencitraan. Tapi, ia tidak mau penilaian orang menghentikan upaya untuk memperbaiki diri. “Niatnya lillahitaala. Ini niat kami untuk jadi lebih baik,” ujarnya.

Menjalankan syariat agama, menurut Ebeth, tidak lantas membuat mereka meninggalkan kegemaran mereka mengutak-atik motor. “Bedanya, sekarang kalau azan ya salat dulu. Hobi tetap jalan, tapi salat enggak ditinggal,” ucapnya. (Catur Ratna Wulandari)

Thursday, 29 October 2015

Geng Motor Bandung Menjadi Target Penyebarluasan Syiah

Diincar Syiah, Geng Motor Bandung Perkuat Akidah

Ada pemandangan berbeda dari dialog terkait bahaya Syiah di Kantor Wali Kota Bandung. Nyatanya para peserta tidak hanya dihadiri oleh perwakilan dari berbagai ormas Islam, tetapi juga perwakilan geng motor kota Bandung Brigez dan Moonraker. 

Kiki Brigez“Kita takut aliran Syiah itu menghampiri kita (geng motor) juga, kita dari Brigez, Moonraker dan XTC, berjaga-jaga agar geng motor tidak menjadi sasaran Syiah, karena bisa jadi mereka berusaha menjadikan kami sebagai pagar untuk melawan Ahlus Sunnah,” ujar Kiki, perwakilan geng motor Brigez kepada Islampos, Selasa (27/10/2015).

Pria berusia 31 tahun ini menjelaskan jika kelompok Syiah dari Yayasan Muthahari mulai melakukan pendekatan kepada komunitas geng motor.

“Syiah memberikan kemudahan-kemudahan untuk geng motor agar anggota geng motor terbujuk masuk ke aliran mereka, ini bahaya sekali,” tambahnya.

Sementara itu, Diki perwakilan dari klub motor Moonraker menyatakan, geng motor kerap kali melakukan kegiatan rohani demi mencegah masuknya pemahaman Syiah. Kegiatan rohani ini di antaranya dengan melakukan dzikir bersama pemuda, pemberian siraman rohani dan kegiatan sosial lainnya.

Diki Moonraker
“Kami seringkali melakukan pengajian bersama di Dago. Selama tiga tahun kami dibina oleh MUI,” ujar Diki.

Selama perjalanan di Moonraker, Diki menyadari bahwa hidup itu tidak boleh begini-begini saja, harus ada perubahan.

“Akhirnya pimpinan kami berinisiatif untuk mengundang MUI agar memberi ilmu dan pencerahan kepada kami,” tambahnya.

Diki menyatakan, mereka seringkali mengaji tentang bab tauhid dan sirah sahabat. Ini dilakukan karena Syiah kerap melakukan pengkafiran terhadap Sahabat Nabi SAW.

Ditanya terkait harapan geng motor terhadap Ridwan Kamil terkait pencegahan Syiah di kota Bandung, Diki berharap Walikota Bandung itu bisa lebih merapat kepada ulama Ahlus Sunnah. Diki berharap agar Ridwan Kamil bisa melarang kegiatan-kegiatan Syiah di kota Bandung.

Sejauh ini, kata Diki, sudah ada koordinasi dengan geng motor kota Bandung untuk menghalau Syiah. Selain dari pengajian, mereka sering turun bersama-sama untuk mengingatkan pemuda awam yang sengaja dibawa Syiah mengikuti ritual, khususnya perayaan Asyuro di stadion persib sendiri.

“Kami (Brigez, Moonraker, Xtc dan geng motor lain) sering melakukan pengajian bersama, jika dulu kita bermusuhan, hari ini Islam telah menyatukan kita,” tutup Diki.

Berikut salah satu video dokumentasi bagaimana Brigez, Moonraker, XTC menunjukkan persaudaraannya dengan mengedepankan nilai keislaman.



Sumber : Islampos